| SUARA HATI | TUTORIAL | FOTO-FOTO | INFO | TIPS | SMS LUCU 'NORAK' | CERITA LUCU | PROFILE BAND INDO | ASKEB/ASKEP | KARYA
TULIS ILMIAH AKBID | ARTIKEL KESEHATAN-KEPERAWATAN-KEBIDANAN DLL | YANG BELUM ADA PLEASE WAIT alias TUNGGUNEN
KARAKTERISTIK POLA PERSALINAN KETUBAN PECAH DINI PADA KEHAMILAN ATERM
Kutipan dari BAB 1 :
Salah satu sasaran utama pembangunan kesehatan adalah menurunkan angka kematian maternal di Indonesia yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2003). Tingginya angka kematian ibu tersebut yang merupakan penyebab utama adalah adanya komplikasi saat kehamilan, persalinan dan pasca kelahiran. Ketuban pecah dini salah satu komplikasi dalam persalinan yang merupakan penyebab terjadinya mortalitas. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan serviks pada primipara kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Mochtar R, 1998). Berdasarkan data yang diperoleh di Ruang ........... tahun 2003, terdapat kasus persalinan dengan komplikasi ketuban pecah dini sebanyak 321 (10%) dari 3210 total persalinan. [...]
Untuk mendapatkan password dan segala ketentuannya kirimkan e-mail: mz_muslym@yahoo.co.id atau morat_marit2010@yahoo.co.id
Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan ini bisa jadi masih memiliki hak cipta, untuk itu mohon maaf kepada penulis, disini Kami sekedar memberikan referensi semata kepada yang membutuhkan, jadi segala ketentuan dan syarat ada pada Kami, jika Anda harus menghubungi Kami itu syarat utama yang ada pada Kami, terima kasih.
Tinggalkan Komentar, Pesan dan Kritik (Sertakan Nama Anda) Tim AstalaVista Malangan - UraKom Karanganyar
HUBUNGAN FAKTOR PENDIDIKAN DAN PARITAS DENGAN PEMAKAIAN IUD DI POLI KB RSU......
Kutipan dari BAB 1 :
KB merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, dimana salah satu caranya yaitu dengan menggunakan kontrasepsi (BKKBN, 2003).
Kontrasepsi adalah suatu alat yang digunakan untuk mencegah atau menghindari terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma. Ada dua pembagian cara kontrasepsi yaitu kontrasepsi sederhana dan kontrasepsi modern atau metode efektif. Salah satu contoh alat kontasepsi modern adalah IUD (BKKBN, 2003). [...]
Untuk mendapatkan password dan segala ketentuannya kirimkan e-mail: mz_muslym@yahoo.co.id atau morat_marit2010@yahoo.co.id
Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan ini bisa jadi masih memiliki hak cipta, untuk itu mohon maaf kepada penulis, disini Kami sekedar memberikan referensi semata kepada yang membutuhkan, jadi segala ketentuan dan syarat ada pada Kami, jika Anda harus menghubungi Kami itu syarat utama yang ada pada Kami, terima kasih.
Tinggalkan Komentar, Pesan dan Kritik (Sertakan Nama Anda)
Tim AstalaVista Malangan - UraKom Karanganyar
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DINI DENGAN PERTUMBUHAN BERAT BADAN BAYI DI BPS ……
Kutipan dari BAB 1 :
ASI merupakan makanan alami pertama untuk bayi dan harus diberikan tanpa makanan tambahan sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6 bulan. ASI harus menjadi makanan utama selama tahun pertama bayi dan menjadi makanan penting selama tahun kedua. ASI terus memberikan faktor-faktor anti infeksi unik yang tidak dapat diberikan oleh makanan lain(Rosidah, 2003).
Setelah usia 4 bulan sampai 6 bulan disamping ASI dapat pula diberikan makanan tambahan, namun pemberiannya harus diberikan secara tepat meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa jumlah yang diberikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi (Rosidah, 2003). Sehingga saat mulai diberikan makanan tambahan harus disesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan bayi dan kebutuhannya (Narendra, dkk, 2002). [...]
Untuk mendapatkan password dan segala ketentuannya kirimkan e-mail ke: mz_muslym@yahoo.co.id atau morat_marit2010@yahoo.co.id
Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan ini bisa jadi masih memiliki hak cipta, untuk itu mohon maaf jika Anda harus menghubungi Kami terlebih dahulu, terima kasih.
Tinggalkan Komentar, Pesan dan Kritik (Sertakan Nama Anda) Tim AstalaVista Malangan - UraKom Karanganyar
Kutipan dari Pendahuluan Alenia 1 pada Gangguan Makan Pasca Kemoterapi & Radiasi
Mengonsumsi makanan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi khususnya pada penderita kanker bertujuan untuk menghambat penurunan berat badan secara berlebihan dan mencapai serta mempertahankan status gizi yang optimal. Diet merupakan bagian yang penting dari terapi pada kanker. Mengkonsumsi makanan yang baik sebelum, selama dan setelah terapi dapat membantu pasien merasa lebih baik dan bertahan lebih kuat. Terapi pada kanker terdiri dari kemoterapi, radiasi, transpalantasi sumsum tulang belakang, imunoterapi dan operasi. Dari setiap terapi pada kanker memiliki efek samping masing–masing yang dapat menyebabkan masalah makan. Efek samping dari terpi kanker antara lain faktor psikologis berupa stress dan depresi, perubahan rasa kecap, mual, muntah, maslah mengunyah dan menelan, tidak nafsu makan, menurunnya produksi air liur, mulut kering, diare dan esophagitis. (Sumber data dari : gizi.net)
Pemberian makanan pada bayi dan anak usia 0-24 bulan yang optimal menurut Global Strategy on Infant and Young Child Feeding (WHO/Unicef, 2002) adalah: menyusui bayi segera setelah lahir; memberikan ASI eksklusif yaitu hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain sampai bayi berumur 6 bulan; memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat dan adekuat sejak usia 6 bulan; dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai usia anak 24 bulan. Di Indonesia, Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 450/MENKES/SK/IV/2004 menetapkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi sejak lahir sampai dengan berumur enam bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. (Sumber Artikel dari gizi.net)
Melakukan Pengendalian Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah Melalui Pola Makan Bergizi Seimbang
Kutipan dari Pendahuluan pada Alenia 1 dan 2
Perubahan pola makan menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang karena mengandung kalori, lemak, protein, dan garam tinggi tapi rendah serat pangan (dietary fiber), membawa konsekuensi terhadap kejadian perubahan status gizi menuju gizi lebih dan obes yang secara umum disebut obesitas dan berkembangnya penyakit degeneratif (jantung, diabetes mellitus, kanker, dan hipertensi). Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi obesitas nasional 19,1%. Pada umumnya perempuan (23,8%) lebih banyak menderita obesitas dibandingkan dengan pria (13,9%). Sedangkan obesitas sentral yang erat kaitannya dengan penyakit degeneratif untuk laki-laki dengan Lingkar Pinggang (LP) di atas 90 cm atau perempuan dengan LP diatas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia –Pasifik, 2005). Prevalensi obesitas sentral tingkat nasional adalah 18,8%.
Data Susenas 2004 tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, menunjukkan bahwa Hampir seluruh penduduk berumur 15 tahun ke atas (99%) kurang mengkonsumsi sayur dan buah, 54% penduduk Indonesia terpapar 3 faktor risiko (merokok, kurang konsumsi sayur dan buah, serta kurang aktifitas fisik). Konsumsi garam meningkat 6,3 g/kapita/ hari tahun dari 5,6 g/kapita/hr (Susenas 1999).